Aturan Polda Metro Bertentangan dengan SK Kapolri, Untuk memperkaya jajaran kepolisian ????

September 11, 2008

Anda mungkin kaget, jika polisi kini tidak lagi bisa memberikan slip atau blanko biru jika menilang. Artinya, pembayaran denda langsung melalui bank tanpa lewat pengadilan tidak bisa lagi dilakukan.

Peraturan ini memang sudah diterapkan Polda Metro Jaya sejak 26 April 2008. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya hanya akan memberikan blanko warna merah dalam penyelesaian perkara pelanggaran lalu lintasnya.

Aiptu Kasno, petugas TMC Polda Metro Jaya saat dihubungi detikcom, Rabu (14/5/2008) mengatakan, aturan ini sesuai dengan Surat Telegram (ST) Dirlantas Polda Metro Jaya ST/93/XI/2008.

Pemberlakukan ini dimaksudkan agar pelanggar menghadiri sidang pengadilan negeri yang sesuai dengan pelanggarannya. “Jadi pelanggar harus menerima blanko warna merah,” ujarnya.

Pelanggar tidak bisa lagi dapat blanko biru saat ditilang berdasarkan keputusan Dirlantas Polda Metro Jaya. Keputusan Dirlantas Polda Metro Jaya itu dinilai bertentangan dengan surat keputusan Kapolri yang membolehkan penggunaan blanko biru.

“Aturan ini sangat bertentangan. Mestinya tidak bisa diberlakukan,” kata pengamat kebijakan publik Andrinov Chaniago saat dihubungi detikcom, Kamis (15/5/2008).

Polda Metro Jaya sejak 26 April 2008 hanya akan memberikan blanko warna merah dalam penyelesaian perkara pelanggaran lalu lintasnya. Aturan ini sesuai dengan Surat Telegram (ST) Dirlantas Polda Metro Jaya ST/93/XI/2008.

Pemberlakukan ini dimaksudkan agar pelanggar menghadiri sidang di pengadilan negeri yang sesuai dengan pelanggarannya dan langsung membayar denda.

Namun dalam Surat Keputusan Kepala Kapolri No Pol: SKEP/443/IV/1998, tanggal 17 April 1998 penggunaan blanko biru bisa dilakukan. Jika pelanggar meminta blanko biru maka pelanggar tidak perlu lagi mengikuti sidang di pengadilan, namun hanya cukup membayar denda melalui bank.

Andrinov menyatakan, sebuah aturan akan gugur dan tidak berlaku jika ada aturan itu bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi. “Keputusan Dirlantas Polda Metro Jaya tentunya dibawah keputusan Kapolri,” ujar Andrinov.

Seharusnya, kata dia, sebuah aturan atau keputusan harus mendukung aturan yang ada di atasnya. “Bagaimana jika aturan itu tidak menyatu malah bertentangan. Implikasinya akan banyak,” pungkas Andrinov.

Polisi kini tidak lagi bisa memberikan slip atau blanko biru jika menilang. Artinya, pembayaran denda langsung melalui bank tanpa lewat pengadilan tidak bisa lagi dilakukan. Kebijakan ini dinilai sebagai kemunduran.

Pengamat kebijakan publik Andrinov Chaniago saat dihubungi detikcom, Kamis (15/5/2008) menuturkan, seharusnya dalam urusan publik yang terkait pelanggaran harus dihindari pertemuan antara pelanggar dan birokrat. Pemberian blanko biru saat ditilang agar pelanggar berhubungan langsung dengan bank. “Ini kemunduran,” ujar Andrinov.

Andrinov menyarankan, seharusnya polisi dan birokrat yang terkait dengan pelanggaran lalu lintas bisa membuat lebih sederhana proses dendanya. Misalnya saja pembayaran lewat transfer bank yang ditampung dalam rekening khusus. “Ini lebih efisien dan tidak berbelit-belit,” tutur Andrinov.

Dia menilai kebijakan ini sangat tidak tepat dan tidak sesuai semangat perubahan untuk memotong rantai birokrasi. “Yang ada ini peluang terjadinya suap di pengadilan dan potensi suap baru bagi polisi yang sebenarnya sudah terbuka,” ungkapnya.

Sebab pelanggar dipaksa untuk menyelesaikan di pengadilan. Pelanggar itu biasanya malas ke pengadilan, makanya dia akan menyelesaikan langsung dengan polisi yang menilangnya.

Polda Metro Jaya sejak 26 April 2008 hanya akan memberikan blanko warna merah dalam penyelesaian perkara pelanggaran lalu lintasnya. Aturan ini sesuai dengan Surat Telegram (ST) Dirlantas Polda Metro Jaya ST/93/XI/2008. Pemberlakukan ini dimaksudkan agar pelanggar menghadiri sidang pengadilan negeri yang sesuai dengan pelanggarannya dan langsung membayar denda.


Alex Noerdin Pantas Memimpin pembangunan Sumatera Selatan

September 11, 2008

Komisi Pemilihan Umum Sumsel akhirnya selesai melakukan rapat pleno terbuka penghitungan suara Pilkada Gubernur Sumsel, Kamis (11/9) menjelang siang ini.

Hasilnya, Alex Noerdin memenangi Pilkada Sumsel dengan meraih total suara 1.866.390 suara, sedangkan Syahrial Oesman meraih 1.764.373 suara.

Dengan demikian, Alex Noerdin dan Eddy Yusuf tinggal menunggu penetapan resmi dan pelantikan sebagai gubernur-wakil gubernur Sumatera Selatan 2008-2013. Namun, situasi sidang pleno ini masih sangat tegang karena saat ini ribuan massa Syahrial Oesman-Helmy Yahya sedang mengepung Kantor KPU Sumsel.
Sidang pleno ini dijaga 2.500 personel polisi dari jajaran gabungan Polda Sumsel. Berikut hasil detil Pilkada Sumsel, pasangan Aldy menang di Kabupaten Banyuasin, Muba, OKU Selatan, Lahat, Pagar Alam, dan Empat Lawang. Sementara itu, pasangan Sohe menang di Kota Palembang, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, OKU Selatan, OKU Timur, dan Lubuk Linggau.

Persentase kemenangan belum dihitung oleh KPU Sumsel. Suara tidak sah mencapai 73.828 suara, sedangkan total pemilih di Sumsel mencapai 3.630.763 orang.


Bung Tomo salah satu pahlawan tanpa tanda jasa yang dilupakan oleh pemerintah

August 25, 2008

Sutomo (lahir di Surabaya 3 Oktober 1920, meninggal di Makkah, 7 Oktober 1981) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Masa muda

Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia

Perjuangan

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi, “Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia.

Setelah kemerdekaan

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.

Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.

Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehinga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.

Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.

Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Makkah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

Semua pengorbanan yang dilakukan oleh Sutomo yang telah memimpin Arek-arek Suroboyo ketika Pertempuran 10 November, ternyata belum mendapat penghargaan atas jasanya, terbukti hingga orde satu berganti ke orde yang lain, bahkan saat pemerintahan sekarang ini, Sutomo (Bung Tomo) belum diakui sebagai Pahlawan Nasional.


Mau Dibawa Kemana Sumatera Selatan Kalau Pemimpinnya Suka Berjudi ????

August 19, 2008

Pukulan telak menghantam Syahrial Oesman, calon Gubernur Sumsel incumbent yang berduet dengan Helmi Yahya. Foto dirinya di rumah judi Genting Highland, Malaysia, beredar luas. Foto itu menggoyang peluangnya.

Beredarnya foto itu jelas meresahkan bagi Syahrial-Helmi. Sebaliknya, hal itu jadi senjata bagi para pesaingnya di Pilkada Sumatera Selatan. Khususnya bagi pasangan Alex Noerdin-Eddy Jusuf, yang kerap saling bergesekan dengan Syahrial.

Selama ini, kubu Alex merasa gerah terhadap kubu Syahrial karena sering dipojokkan. Baru-baru ini, misalnya, kubu Alex membongkar konspirasi kubu Syahrial yang membuat dan mengedarkan video di internet. Video itu berisi tuduhan perselingkuhan Alex dengan seorang perempuan beranak dua.

Karena itu, sejak foto Syahrial berjudi di Genting beredar luas, kubu Alex menyambutnya dengan suka cita. “Kami puas dengan foto-foto Syahrial sedang duduk di meja judi beredar luas. Itu menunjukkan bahwa ia tidak bersih-bersih amat,” kata seorang pendukung Alex.

Di Pilkada Sumsel, Syahrial maju sebagai cagub yang diusung PDI-P, PKS, dan beberapa parpol kecil.

Foto Syahrial sedang duduk di meja judi itu langsung dikopi dan beredar di tengah masyarakat. Orang yang melihat foto itu terheran-heran. Mereka selama ini menilai Syahrial sebagai sosok alim dan santun, bahkan terkesan agamis.

Syahrial sendiri mengakui foto itu memang foto dirinya. Tapi, ia menyatakan berada di Genting bukan untuk berjudi, melainkan meninjau pusat judi itu dalam rangka studi banding. Ia berada di sana bersama sejumlah orang dan pejabat pemerintahan. “Banyak saksinya bahwa saya di sana bukan untuk berjudi,” cetusnya.

Pengamat politik Muhammad Jalil menganggap foto judi Syahrial itu bisa mengurangi dukungan masyarakat kepadanya. Pemilih bisa kecewa dengan foto itu karena mereka menganggap tokoh yang akan mereka pilih telah cacat moral. Tapi, itu juga tidak lantas otomatis mendongkrak perolehan suara Alex.

“Sekarang tinggal bagaimana Syahrial memperbaiki citranya sebelum pencoblosan 4 September 2008. Ia harus bisa meyakinkan pemilih bahwa itu bukan dirinya atau ia tidak sedang berjudi di Genting,” ungkap Jalil.

Beredarnya foto-foto Syahrial di Genting kian memanaskan persaingannya dengan Alex yang diusung Partai Golkar dan sejumlah partai kecil lain.

Tajamnya persaingan dua cagub itu dikhawatirkan bakal memicu konflik fisik antarmassa pendukung mereka. Selama ini, bentrokan memang kerap terjadi di antara kedua kubu. Beberapa kali pendukung Alex diserang pendukung Syahrial ketika sedang melintas di jalan.


Semangat Juang Tojo Membela Tanah Airnya Patut Dicontoh

August 14, 2008

Hideki Tojo (東條 英機 Tōjō Hideki) (30 Desember 1884-23 Desember 1948) adalah jenderal Jepang dan PM ke-40 Jepang (18 Oktober 1941-22 Juli 1944). Tojo ialah anggota klik tentara yang mendorong Jepang dalam perang di akhir 1930-an. Sebagai Menteri Perang pada 1940 ialah penolong dalam kepemimpinan Jepang dalam Blok Axis dengan Jerman Nazi dan Italia. Di antara keputusannya ialah izin persetujuan pemerintah dalam percobaan biologis terhadap para tawanan perang. Mulai 1941, Tojo ialah PM dan menguasai seluruh militer Jepang, yang begitu mendominasi Jepang saat itu yang ia sesungguhnya ialah diktator bangsa. Ia digantikan pada 1944 menyusul serentetan kekalahan tentara Jepang. Setelah perang, ia menembak dirinya sendiri di dada untuk bunuh diri namun gagal. Ia kemudian diadili oleh Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh sebagai penjahat perang. Ia dinyatakan bersalah atas tuduhan 1 (peperangan agresi, dan perang dalam pelanggaran terhadap hukum internasional), tuduhan 27 (mengadakan perang tak beralasan terhadap Tiongkok), tuduhan 29 (peperangan agresif melawan AS), tuduhan 31 (mengadakan perang agresif melawan Persemakmuran Inggris), tuduhan 32 (mengadakan perang agresif melawan Belanda), tuduhan 33 (mengadakan perang agresif melawan Prancis (Indochina)), dan tuduhan 54 (memerintahkan, membenarkan, dan mengizinkan perlakuan tak berperikemanusiaan terhadap penjahat perang dan lainnya). Ia divonis mati pada 12 November 1948, dan menerima hukuman gantung.

Dua bom atom AS atas Hiroshima (6 Agustus 1945) dan Nagasaki (9 Agustus 1945) memaksa Jepang mengaku kalah dan menyerah kepada pasukan Sekutu. Itu yang dilakukan Kaisar Jepang Hirohito. Jenderal Hideki Tojo yang juga menjadi PM Jepang pada Perang Dunia II menolak menyerah dan memilih terus berperang. Bagi Tojo, menyerah tidak ubahnya tindakan pengecut.

Sika pantang menyerah dari jenderal berkepala plontos kelahiran Tokyo, 30 Desember 1884, ini terungkap dari catatan hariannya yang disiarkan pertama kali oleh media Jepang, Selasa (12/8). Catatan harian tulisan tangan Tojo sebanyak 20 halaman ini dibuat pada hari-hari terakhir Perang Dunia II. Catatan ini disimpan Arsip Nasional Jepang.

”Catatan ini memperlihatkan Tojo tetap mempertahankan mental militer hingga saat-sat terakhir,” ujar Kazufumi Takayama, kurator arsip yang memastikan akurasi dari catatan harian Tojo ini. ”Sungguh sangat bernilai,” ujarnya.

Hideki Tojo, putra ketiga dari Letjen Hidenori Tojo, menjabat perdana menteri (1941-1944). Dia dihukum mati pada 23 Desember 1948 oleh pengadilan militer Sekutu karena kejahatan perang. Catatan harian ini memperlihatkan betapa Tojo sangat keras menolak menyerah sekalipun sebagian besar warga Jepang sudah kehilangan asa.

”Kita harus melihat negara ini menyerah kepada musuh tanpa memperlihatkan kekuatan kita hingga 120 persen,” tulis Tojo bertanggal 13 Agustus 1945, dua hari sebelum Jepang menyerah. ”Kita ada pada posisi perdamaian memalukan daripada menyerah memalukan,” ujarnya.

Tojo juga mengecam keras rekan-rekannya, menuduh para pemimpin pemerintah takut oleh ancaman musuh dan dengan mudah menyerah.

Menurut Tojo dalam catatannya, para pemimpin Jepang yang mengusulkan menyerah terutama karena takut dengan ”bom jenis baru” dan kemungkinan Uni Soviet juga terlibat dalam perang.

Tulisan Tojo soal ”bom jenis baru” ini berkaitan dengan bom atom yang dijatuhkan AS di Hiroshima dan Nagasaki, menewaskan sekitar 200.000 orang. Bom ini bisa menimbulkan kehancuran total di seluruh Jepang.

Bambu runcing

Posisi militer Jepang saat itu sudah tersudut, kalah di laut dan darat di banyak tempat. Anak-anak, perempuan, dan orang tua dipersenjatai dengan bambu runcing, mempertahankan tanah air dari invasi musuh.

Catatan Tojo ini sampai ke pemerintahan ketika pembela Tojo, Ichiro Kiyose, menyerahkannya kepada Kementerian Kehakiman. Kementerian lantas menyerahkannya ke Arsip Nasional tahun 1999. Para penyelidik mulai mengamati catatan harian ini sejak tahun lalu.

Catatan harian dengan tulisan tangan ini cocok dengan tulisan tangan Tojo saat dia meringkuk dalam Penjara Sugamo hingga dihukum mati tahun 1948.

Ungkapan pikiran Tojo dalam catatan harian ini memperlihatkan keyakinannya bahwa tepat dan perlu aksi invasi militer Jepang yang brutal ke seluruh wilayah Asia, termasuk hingga ke Indonesia. Dia juga tak menyesal dengan keputusannya menyerang Pearl Harbor, pangkalan militer AS di Hawaii, 7 Desember 1941. Serangan yang melibatkan AS dalam perang.

Pada 10 Agustus, sehari setelah Nagasaki dibom, Tojo menulis bahwa perang perlu untuk menstabilkan Asia Timur dan mempertahankan negara (Jepang). ”Banyak tentara dan rakyat tidak sempat berkorban sampai mati hingga tujuan ini tercapai,” tulisnya.

Catatan harian Tojo ini sepertinya lebih ditujukan kepada dirinya sendiri. ”Saya menerima keputusan menyerah ini dengan diam,” tulisnya. Tojo memutuskan tidak banyak berkomentar sekalipun dia sangat menentang keputusan menyerah.

Pada 14 Agustus, sehari sebelum Jepang mengaku kalah, Tojo menulis surat kepada seorang anggota stafnya dan mengatakan, ”Dia bertanggung jawab moral menyebabkan kematian yang sia-sia sekalipun sebenarnya mereka telah berkorban untuk tujuan yang lebih besar.”

”Saya mohon maaf dengan menawarkan nyawa saya,” tulisnya. Tojo gagal harakiri pada September 1945 sebelum ditangkap. Tojo dikenal sebagai pribadi yang keras dan pengambil keputusan yang cepat. (Reuters/AFP/AP/ppg)


Supriyadi Pahlawan Pembela Tanah Air (PETA) telah ditemukan selanjutnya apa yang akan dilakukan Pemerintah ???

August 12, 2008

Tidak ada seorang pun tahu bahwa Andaryoko Wisnuprabu adalah Supriyadi, pahlawan Pembela Tanah Air (PETA) yang hilang misterius sejak 63 tahun lalu, kecuali Soepardjo Roestam. Selama ini Soepardjo pun tidak pernah membocorkan identitas Andaryoko.

“Yang mengenali saya sebagai Supriyadi hanyalah Pak Soepardjo Roestam,” kata Andaryoko saat ditemui detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya di kawasan Jalan Mahesa Raya, Pedurungan, Semarang, Selasa (12/8/2008).

Soepardjo Roestam adalah mantan gubernur Jawa Tengah. Mantan ajudan Panglima Besar Soedirman itu juga pernah dipercaya oleh Presiden Soeharto sebagai Mendagri dan Menko Kesra.

Mengapa Soepardjo Roestam mengetahui Andaryoko sebagai Supriyadi? Karena Soepardjo Roestam juga mantan pejuang PETA. Soepardjo Roestam mengenal betul sosok Supriyadi.

Lantas dari mana Soepardjo tahu Andaryoko adalah Supriyadi? Andaryoko tidak pernah memberitahu identitas aslinya kepada Soepardjo. “Beliau tahu karena para anggota PETA sering melakukan lelaku. Beliau tahu saya melalui insting. Ketika beliau bertanya apakah bapak adalah Pak Supriyadi, baru saya membenarkan,” kata Andaryoko.

Di banyak tulisan sejarah, Soepardjo Roestam memulai karirnya dari bawah. Perjalanan kemiliterannya dimulai pada 1944, ketika ia bergabung ke dalam PETA. Waktu itu ia terpilih sebagai shudancho — ajudan komandan batalyon di Kroya, mengiringi Panglima Besar Soedirman. Saat itu Sudirman masih Daidancho PETA Kroya. Saat Soedirman jadi Panglima Besar, Soepardjo ditarik jadi ajudan dengan pangkat kapten. Sementara Supriyadi menjadi komandan batalyon di Blitar.

Andaryoko Wisnuprabu mengklaim sebagai Supriyadi, tokoh PETA yang hilang misterius sejak 63 tahun lalu. Bila klaim itu benar, mengapa Andaryoko baru membuka identitas dirinya baru-baru sekarang ini? Ini terkait pesan Bung Karno.

Saat ditemui detikcom dan The Jakarta Post, Selasa (12/8/2008) di rumahnya di Jalan Mahesa Raya, Pedurungan, Semarang, Andaryoko menjelaskan klaim dirinya itu. Dia memperlihatkan foto-foto dirinya semasa di PETA dan foto masa mudanya. Dia juga sangat lancar menceritakan sejarah yang terjadi puluhan tahun lalu.

Ada dua alasan mengapa dirinya baru buka-bukaan sekarang ini. Bahkan, dia juga mengeluarkan buku dengan judul ‘Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno’. Buku yang penulisannya dibantu oleh sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T Wardaya, dan telah diluncurkan pada Sabtu (9/8/2008) di Semarang.

Pertama, adanya dorongan dari banyak pihak agar dirinya segera membuka diri. Kedua, saat ini merupakan saat yang pas bagi Andaryoko untuk membuka diri ke publik.

“Kenapa? Karena dulu Bung Karno pernah berpesan kepada saya begini, “Sup, kamu kan mengalami sendiri sejarah bangsa ini. Tolong kalau kamu diberi umur panjang, kamu ceritakan semua yang kamu ketahui”. Dan sekarang inilah saatnya saya melaksanakan pesan Bung Karno, karena saya sudah berusia lanjut,” kata Andaryoko yang mengenakan baju warna cokelat.

Andaryoko kini berusia 89 tahun. Dia hidup bersama anak dan cucunya di Semarang. Meski Andaryoko sudah sepuh, namun ingatannya masih tajam. Dia bahkan cas cis cus saat ditanya mengenai kisah-kisah sejarah yang terjadi puluhan tahun silam.

Sebagai penulis buku sejarah, Baskara T Wardaya mengaku sudah beberapa kali bertemu orang yang mengaku sebagai Supriayadi saat melakukan riset. Namun sosok Andaryoko Wisnuprabu, berbeda dengan para ‘Supriyadi’ lainnya.

“Biasanya tokoh yang pernah muncul dulu dengan nuansa supranatural dan penuh kesaktian, namun Andaryoko Wisnuprabu tidak,” kata Baskara, sejarawan sekaligus Kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, kepada detikcom, Selasa (12/8/2008).

Tidak hanya itu, Andaryoko juga menarasikan sejarah Indonesua pasca-45 yang berbeda. Andaryoko jauh lebih mementingkan sejarah daripada hal lainnya.

“Dia tidak ingin ada semacam kultus individu. Itu yang dia hindari. Dia tak ingin dipuji, tapi ingin ditulis. Andaryoko bilang yang penting bukan dirinya,” kata Baskara menuturkan ucapan Andaryoko saat bertemu di Semarang.

Baskara menambahkan, banyak sejarah tentang peristiwa pemberontakan PETA di Blitar yang bisa dikaji ulang. Misalny, saat para pemberontak ditangkap tentara militer Jepang mengpa Jepang tidak langsung mengumumkannya. Termasuk juga mengapa pemberontakan itu terjadi di Blitar.

“Mengapa peristiwa itu muncul di Blitar bukan di Batavia (Jakarta) atau daerah lain. Ini yang jadi pertanyaan,” kata doktor lulusan Universitas Marquette, Milwaukee, Wisconsin, AS itu.

Demikian pula soal penunjukan Supriyadi menjadi menteri keamanan rakyat atau panglima TKR oleh Bung Karno selaku Presiden RI. Hal itu tentu dilakukan Bung Karno dengan alasan kuat mengingat jabatan tersebut sangat strategis.

“Jangan-jangan dia (Supriyadi) memang masih ada karena masih disebut oleh Bung Karno,” ungkap Baskara.

Selain itu, sambung Baskara, Bung Karno semasa menjadi presiden juga tidak pernah menangkat Supriyadi menjadi pahlawan nasional. Sebab seseorang diangkat menjadi pahlawan nasional setelah yang bersangkutan meninggal dunia.

“Saya kira semua masih bisa dilacak sejarahnya. Ini akan memperkaya khasanah sejarah Indonesia terutama pasca-45. Kita perlu mendengarkan yang lain,” pungkas dia.

Andaryoko Wisnuprabu mengaku sebagai tokoh PETA yang hilang misterius 63 tahun lalu, Supriyadi. Dia mengaku pergi dan menetap di Semarang setelah heboh kasus pemberontakan di Blitar. Di Semarang, dia menjadi staf wakil residen Semarang, dan kemudian memimpin perusahaan.

Andaryoko mulai tinggal Semarang pada Juli 1945. Saat itu, Andaryoko dijadikan sebagai staf Wakil Residen Wongsonegoro. Dia bekerja di staf pemerintahan ini cukup lama.

Hingga kemudian pada tahun 1959, dia dipercaya untuk memimpin perusahaan perkebunan milik negara, Pusat Perkebunan Negara Baru Jawa Tengah. Setelah itu Andaryoko dipercaya mengelola Perusahaan Negara Jayabakti yang bergerak dalam garmen dan perdagangan umum. Saat itu, perusahaan tersebut dipimpin oleh Suhardiman.

Pada tahun 1972, Andaryoko berhenti bekerja dan pensiun. Dia lantas mendirikan dan mengurus beberapa yayasan.

Selama Andaryoko bekerja di staf pemerintahan dan kemudian memimpin perusahaan, tidak ada seorang pun tahu bahwa dia adalah Supriyadi. Sebab, menurut Andaryoko, dirinya tidak pernah membuka identitas sebenarnya kepada publik. Dia baru membuka diri ke publik akhir-akhir ini.

Andaryoko juga bercerita bahwa awalnya nama yang dia pakai di Semarang tanpa ada embel-embel Wisnuprabu. “Nama Wisnuprabu saya pakai setelah saya melakukan tirakat. Orang-orang PETA memang dari dulu suka melakukan lelaku-lelaku,” ujar lelaki sepuh berusia 89 tahun itu.

Andaryoko Wisnuprabu, pria yang mengaku sebagai tokoh pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) Supriyadi, juga bercerita soal naskah proklamasi. Menurut Andaryoko, naskah asli proklamasi sempat dibuang ke tempat sampah.

Andaryoko menuturkan, naskah proklamasi tersebut ditulis oleh Bung Karno sekitar pukul 04.00 WIB, 17 Agustus 1945. Setelah selesai, Bung Karno kemudian memberikan naskah itu kepada para pemuda yang berkumpul di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56. Naskah itu selanjutnya diketik oleh Sayuti Melik.

“Usai mengetik, Melik meremas-remas naskah (teks proklamasi yang ditulis Bung Karno) itu. Dia pikir kertas itu tidak diperlukan lagi, karena sudah ada naskah ketikan. Naskah itu dibuang ke tempat sampah,” kata Andaryoko kepada detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya, Selasa (12/8/2008).

Andaryoko menjelaskan, usai mandi, Bung Karno melihat ulang naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik. Lalu dia bertanya soal naskah aslinya.

“Beruntung, naskah asli itu tidak dirobek. Hanya diremas sampai kumal. Setelah itu, naskah itu diseterika dan menjadi bagus lagi. Bung Karno mengantonginya dan sekarang disimpan di Arsip Nasional,” ungkapnya panjang lebar. (Dalam versi yang lain, naskah dipungut dari tempat sampah oleh BM Diah dan baru diserahkan kepada Presiden Soeharto pada tahun 1992)
Sebelum bercerita soal naskah proklamasi, Andaryoko mengisahkan peristiwa ‘penculikan’ tokoh tua oleh pemuda. Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh lain dibawa ke Rengasdengklok.

Menurutnya, peristiwa itu bukan penculikan. “Saya tidak ngomong seperti itu. Peristiwa itu hanya negosiasi antara tokoh tua dan muda,” demikian Andaryoko.

Menjelang kemerdekaan 17 Agustus 1945, situasi serba darurat. Kain putih yang digunakan sebagai bendera berasal dari gordyn, sedangkan tiang bendera merupakan bambu bekas jemuran pakaian.

Demikian penuturan Andaryoko Wisnuprabu yang mengaku sebagai pejuang PETA, Supriyadi, ketika ditemui detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya, Selasa (12/8/2008).

“Saat itu kan pagi-pagi sekali. Tidak mungkin ada penjual kain atau bambu. Akhirnya, kain putih diambilkan dari gordyn dan bambu jemuran sebagai tiang benderanya,” katanya.

Andaryoko tidak ingat betul darimana kain merahnya. Namun ia yakin itu juga kain bekas. Bendera itu dijahit oleh Fatmawati.

Rencananya proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monas, Jakarta). Namun ternyata lapangan tersebut diblokir tentara Jepang.

“Kurir yang dikirim Bung Karno menjelaskan, lapangan tersebut dipenuhi tentara Jepang. Ini artinya, info (rencana proklamasi) sudah bocor,” jelasnya.

Akhirnya, pembacaan proklamasi dilakukan di halaman rumah Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur No 56. Microphone kecil yang dipakai dalam upacara itu adalah milik Bung Karno yang diambilkan dari radio.

Andaryoko Wisnu Prabu (sebelumya ditulis Andaryoko Wisnuprabu-Red) mengaku sebagai Supriyadi. Dia punya alasan mengapa dia mengubah nama menjadi Andaryoko. Bahkan, pejuang PETA itu tidak hanya sekali mengubah nama. Mulai dari Andaryono, Andaryoko, hingga Andaryoko Wisnu Prabu.

Saat tiba di Semarang Juli 1945, oleh Wakil Residen Semarang Wongsonegoro, Supriyadi diminta mengganti nama agar tidak diketahui tentara Jepang. Demi keselamatan bersama, ia setuju.

“Awalnya, saya berpikir nama Andaryono. Tapi nama Yono sudah terlalu banyak. Lalu saya ganti dengan Andaryoko,” kata Andaryoko ketika ditemui detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya, Selasa (12/8/2008).

Nama belakang, Wisnu Prabu, diperoleh saat lelaku atau tirakat. Dia mendapat bisikan agar menambah namanya menjadi Andaryoko Wisnu Prabu yang akhirnya dipakai hingga kini.

Nama baru tidak menghilangkan secara total sosok Supriyadi. Pejuang PETA itu pernah tertangkap basah oleh orang lain.

Dalam ‘Buku Catatan Kisah Perjuangan Perjuangan Tentara Pelajar Solo: Merdeka atau Mati!’ terbitan Al-Qalam Jakarta 1983 disebutkan, pada 30 Desember 1948, dua tentara pelajar dinasihati seseorang. Mereka menduga orang itu adalah Supriyadi.

“Ya. Saya bertemu mereka. Tapi saya lupa nama mereka,” terang Andaryoko membenarkan kisah di dalam buku itu.

Pun halnya saat ditanya soal kejelasan Supriyadi berada di Bayah, Banten sebagaimana disebutkan dalam Buku Citra Perjuangan dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan yang terbit pada tahun 1987.

“Saya memang pernah ke sana (Bayah, Banten). Saya bertemu dengan Kepala Desa bernama Haji Mukandar. Oleh dia saya dikabarkan telah mati,” ungkap dia.

Identitas aslinya tetap terjaga hingga usianya menginjak 89 tahun. Akhir-akhir ini saja, saat situasi dirasa memadai, ia membuka identitas aslinya, Supriyadi.

Empat anak Andaryoko juga tidak tahu identitas aslinya. Bahkan istrinya, Fatma, tidak tahu mengenai hal ini hingga ajal menjemputnya 2003 silam.

“Saya tahu ya  saat bapak diwawancarai penulis buku dan Anda ini,” kata putra kedua Andaryoko, Andarwanto yang tidak terlalu banyak bicara saat menemani wawancara.Pemberontakan PETA Blitar pecah pada 14 Februari 1945. Sejatinya, pemberontakan dilakukan lebih awal, yakni 5 Februari 1945 saat dilakukan latihan bersama (Daidan) batalyon PETA Jawa Timur di Tuban. Namun, rencana ini gagal, karena Jepang mendadak membatalkan jalannya latihan. Perwira PETA yang terlanjur datang ke Tuban dipulangkan masing-masing ke kotanya.

Rencana pemberontakan PETA sendiri sesungguhnya datang dari akumulasi kekecewaan para kadet PETA terhadap Jepang. Di lapangan, mereka kerap menjumpai tindak sewenang-wenang tentara Jepang kepada pribumi, sementara dalam latihan ketentaraan, Jepang selain keras juga melakukan diskriminasi, seperti keharusan menghormat tentara Jepang meski pangkatnya lebih rendah.

Adalah Supriyadi yang menjadi motor rencana pemberontakan. Sebetulnya ia hanya seorang Shudanco (komandan peleton). Atasannya masih ada Cudanco (komandan kompi) Ciptoharjono dan Daidanco (komandan batalyon) Soerahmad. Namun, tak bisa dipungkiri, inisiatif dan otak pemberontakan ada di tangan Supriyadi. Ia menggandeng beberapa rekan Shudanco yang sepaham.

Syahdan pada 9 Februari 1945, Supriyadi menemui guru spiritualnya, Mbah Kasan Bendo. Ia mengutarakan maksud untuk melawan Jepang. Konon, saat itu Kasan Bendo memintanya untuk bersabar dan menunda gerakan hingga 4 bulan. “Tapi kalau ananda mau juga melawan tentara Jepang sekarang, saya hanya dapat memberikan restu kepadamu, karena perjuanganmu itu adalah mulia.”

Pesan itu disampaikan Supriyadi kepada rekan-rekannya. Setelah sempat menemui pimpinan PUTERA, Soekarno dan gagal mendapat restu, Supriyadi mengadakan rapat terakhirnya 13 Februari 1945 di kamar Shudanco Halir Mangundjidjaja. Hadir Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono. Hasilnya, pemberontakan akan dilakukan besok. Mereka masing-masing tahu risikonya bila gagal, paling ringan disiksa dan paling berat hukuman mati.

Rencana ini terkesan tergesa-gesa karena Supriyadi dan rekan-rekannya khawatir tindak tanduk mereka telah dimonitor Jepang. Shudanco Halir menceritakan di Blitar baru saja datang satu gerbong anggota Kempetai yang baru datang dari Semarang. Mereka menginap di Hotel Sakura. Supriyadi cs menduga, kedatangan Kempetai untuk menangkap dirinya dan rekan-rekannya.

14 Februari 1945, pukul 03.00, senjata dan peluru dibagi-bagikan ke anggota PETA. Jumlah yang ikut serta 360 orang. Setengah jam kemudian, Bundanco Soedarmo menembakkan mortir ke Hotel Sakura. Hotel direbut dan tentara PETA menurunkan slogan “Indonesia Akan Merdeka” (janji proganda Jepang) dan menggantinya dengan spanduk “Indonesia Sudah Merdeka.” Merah putih juga dikibarkan.

Pasukan PETA melucuti senjata para polisi dan membebaskan tawanan dari penjara. Beberapa orang Jepang yang ditemui dibunuh. Mereka lalu bergerak menyebar ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun entah kenapa, rencana penyebaran malah gagal. Seluruh pasukan PETA seusai serangan justru berkumpul di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri.

Sejak awal, Jepang berhati-hati dalam menangani pemberontakan PETA. Mereka tidak terlalu ofensif dan cenderung menggunakan jalan persuasif untuk menjinakkan Supriyadi dan rekan-rekannya. Hal ini dilakukan demi menghindari tersulutnya kemarahan Daidan (Batalyon) PETA yang lain yang bisa saja malahan membuat pemberontakan meluas dan merembet ke mana-kemana.

Setelah kota Blitar berhasil diduduki kembali, langkah diplomasi pun dibuat. Kolonel Katagiri yang ditunjuk untuk memimpin operasi penumpasan mendatangi pasukan Supriyadi yang bertahan di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri. 19 Februari 1945, di Sumberlumbu, Katagiri bertemu dengan Muradi, salah satu pemimpin pemberontak. Pasukan PETA menawarkan penyerahan diri bersyarat. Adapun syaratnya adalah:

1. Mempercepat kemerdekaan Indonesia

2. Para tentara PETA yang terlibat pemberontakan takkan dilucuti senjatanya.

3. Aksi tentara PETA yang dilakukan pada 14 Februari 1945 di Kota Blitar
takkan dimintai pertanggungjawaban.

Katagiri menyetujui syarat tersebut. Sebagai tanda sepakat, ia menyerahkan pedang perwiranya kepada Muradi untuk disimpan. Muradi beserta seluruh pasukannya kembali ke Blitar.

Nah, pada saat kembali dari Ngancar inilah, Supriyadi terakhir kali terlihat. Persisnya ia hilang di dukuh Panceran, Ngancar. Ada dugaan dia diculik secara diam-diam dan dibunuh Jepang di Gunung Kelud, namun berkembang juga isu bahwa Supriyadi sengaja melarikan diri. Mungkin ia memang sudah tak yakin Jepang akan memenuhi syarat yang diajukan PETA.

Jika itu yang ia rasakan, Supriyadi benar. Kesepakatan Sumberlumbu ternyata tak diakui oleh pimpinan tentara Jepang di Jakarta. Mereka meminta Kempetai tetap memproses para pelaku diproses. Dari hasil pilah memilah dan negosiasi, diberangkatkanlah 78 tentara PETA ke Jakarta untuk menghadapi pengadilan militer Jepang. Anggota lain yang terlibat hanya dikarantina di mess.
Hasil dari sidang militer, sebanyak 6 orang dijatuhi hukuman mati, 6 orang diganjar hukuman seumur hidup dan sisanya dihukum antara beberapa bulan sampai beberapa tahun. Tak lama kemudian, Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Shudanco Halir Mangkoedjidjaja, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono menjalani eksekusi mati dengan dipenggal kepalanya di Eereveld, Ancol.

Bagaimana dengan Supriyadi? Sejak ia menghilang, ia tak pernah menunjukkan batang hidungnya kembali. Supriyadi sendiri pernah berpesan kepada ibunya beberapa hari sebelum pecahnya pemberontakan, apabila ia tidak kembali ke rumah dalam waktu 5 tahun, itu tandanya dirinya sudah meninggal dunia.

Apa benar Supriyadi telah gugur? Yang jelas, fakta bahwa jasadnya tak pernah diketemukan berbanding dengan penunjukannya sebagai panglima tentara Indonesia yang pertama menjadi bahan menarik sebagai komoditi misteri hingga kini. Komoditi yang juga sama dengan kasus raibnya Tan Malaka sebelum dipecahkan oleh sejarawan Belanda, Dr Harry Poeze.

Andaryoko Wisnu Prabu (89) yang mengaku sebagai Supriyadi membenarkan bahwa tentara Pembela Tanah Air (PETA) melakukan pemberontakan terhadap Jepang di Blitar. Karena kalah oleh tentara Jepang, Andaryoko dan pasukannya sembunyi di hutan selama 3 bulan.

Menurut Andaryoko, ada sekitar 200 pejuang PETA yang menyerang markas Jepang pada pukul 02.00 WIB, 14 Februari 1945. PETA melakukan pemberontakan karena tidak rela penduduk Indonesia diminta membungkuk-bungkuk pada Jepang dan dipukuli.

“Banyak yang mati dalam perang dadakan itu,” kata Andaryoko kepada detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya di Jalan Mahesa Raya, Pedurungan, Semarang Selasa (12/8/2008). Pejuang PETA kalah karena Jepang meminta bala bantuan dari Kediri, Malang, dan sekitarnya.

Akhirnya, pejuang PETA pun lari menyelamatkan diri dan mengungsi ke hutan mulai dari Blitar Selatan, Hutan Purwo, dan Ketonggo, Ngawi. Mereka bersembunyi hingga bulai Mei 1945.

Pada Mei 1945 itu, Andaryoko keluar hutan dan menemui Bung Karno di Jakarta. Pada saat bersamaan, Bung Karno ikut sidang BPUPKI.

“Saya diterima pengawal presiden. Bung Karno pada awalnya tidak percaya. Tapi setelah saya katakan,” Bung, Anda itu pemimpin. Kalau tidak memercayai orang sendiri, saya harus percaya kepada siapa”, paparnya.

Akhirnya, Andaryoko diajak ke ruang belakang dan berbincang macam-macam. Saat itulah, dia berhubungan langsung dengan Bung Karno. Presiden pertama itu menyebut Andaryoko dengan sebutan Sup (Supriyadi).

Pada saat itulah Bung Karno berpesan kepada Andaryoko alias Supriyadi. “Sup, kamu kan mengalami sendiri sejarah bangsa ini. Tolong kalau kamu diberi umur panjang, kamu ceritakan semua yang kamu ketahui.”


SALAHKAH APABILA PAN MEMBERIKAN KESEMPATAN KEPADA ARTIS YANG BERPOTENSIAL UNTUK MENJADI ANGGOTA LEGISLATIF ???

August 11, 2008

Minggu, 10 Agustus 2008 | 18:52 WIB

JAKARTA, MINGGU – Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Soetrisno Bachir menyebut bahwa banyaknya artis yang masuk sebagai calon anggota legislatif (caleg) bukanlah sesuatu yang seharusnya dipermasalahkan. Ia menyebut fenomena itu layaknya hukum ekonomi, ketika ada permintaan, pasti ada penawaran.

“Menurut saya ini demand and supply. Masyarakat menghendaki, fanatisme publik itu kuat. Saya merasakan itu karena saya sering ke masyarakat bersama artis. Kemudian supply itu juga otomatis, karena ada permintaan maka di situ ada penawaran,” kata Soetrisno kepada persdanetwork di Jakarta, Minggu (10/8).

Politisi yang populer dengan slogan iklannya “Hidup adalah Perbuatan” ini menyebut bahwa fenomena parpol mengajak artis menjadi caleg itu di Indonesia sudah ada sejak dulu. Ia mencontohkan bagaimana di zaman Orde baru, Golkar sudah merekrut artis. Sekarang, banyaknya artis yang masuk sebagai caleg dinilai Soetrisno karena ingin menunjukkan eksistensi dirinya. Menurutnya, pendapatan artis sudah miliran dan bahkan sudah mampu menguasai publik dibandingkan politisi sekalipun. “Nah yang belum dia miliki adalah ingin mengaktualisasikan dirinya bahwa ia bisa berbuat lebih banyak untuk rakyat.” kata dia.

Soetrisno juga mengaku tidak keberatan jika partai yang dipimpinnya mendapat sebutan sebagai Partai Artis Nasional. Ia malahan menyebut bahwa pelesetan nama PAN itu bukan hanya itu. Di kalangan Nahdlatul Ulama, PAN kata dia disebut Partai Anak Nahdliyin. Sementara di kalangan marhaenis, PAN disebut Partai Anak Nasionalis. “Di artis jadi Partai Artis Nasional, biar saja, nggak apa-apa. Yang penting PAN ini rumah besar bagi semua kalangan,” kata dia.

Toh, meski identik dengan sebutan Partai Artis Nasional, Soetrisno menyebut bahwa porsi untuk kalangan artis sebagai caleg yang masuk dari partainya tidaklah dominan. Bahkan kata dia sangat kecil jika dibandingkan dengan kader partai. “Dari 672 caleg, itu paling banyak caleg artis hanya 30-an. Jadi tidak sampai 5 persen. Lha, bahwa nanti yang terpilih berapa, itu saya belum tahu. Saya perkirakan kalau dapat 100 kursi yah 10 persennya. Jadi mungkin 10-an artis mungkin yang akan terpilih,” lanjut dia.

Politisi asal Pekalongan ini juga membantah bahwa PAN menerapkan pola rekruitmen pragmatis dengan membuka pintu lebar-lebar bagi artis yang ingin maju sebagai caleg. Sebaliknya, kata dia, artis yang ingin maju sebagai caleg lewat PAN, harus menjalani serangkaian pelatihan (training) yang super ketat. “Di PAN ada lembaga untuk memberikan bekal maupun pengetahun kepada artis yang akan maju mengenai masalah politik, kebangsaan, parlemen, di DPR itu seperti apa. Yang memberikan training itu doktor politik, juga politisi yang aktif di partai. Sekarang, Anda lihat saja, Derry Drajad kalau tampil di acara Republik Mimpi itu sudah berbeda karena sudah di training,” sambung Soetrisno.

Kalaupun muncul sinisme dengan banyaknya artis jadi caleg, Soetrisno menyebut bahwa itu bukanlah bentuk sinisme publik. Tapi hanya pendapat dari sebagian kecil kalangan di masyarakat. “Bukan sinisme publik, tapi sinisme pengamat. Padahal yang milih kan rakyat, jadi kenapa pengamat mengatasnamakan rakyat. Lha wong rakyat kalau didatangi selebritis senang sekali,  karena kebetulan banyak koruptor bukan dari artis. Dede Yusuf, Adjie Massaid, Komar bukan koruptor, kan nggak ada artis yang jadi koruptor,” ujar dia.

Beberapa artis yang merapat ke PAN diantaranya bintang film Wulan Guritno, pesinetron yang bintang iklan Marini Zumarnis, pelawak yang juga presenter Eko Patrio, dan juga pelawak yang kini jadi dai, Cahyono. Juga, rocker era 80-an, Ikang Fawzi. Sebelumnya ada aktor Dede Yusuf yang kini menjadi wakil gubernur Jawa Barat.(PersdaNetwork/HAD)