Supriyadi Pahlawan Pembela Tanah Air (PETA) telah ditemukan selanjutnya apa yang akan dilakukan Pemerintah ???

Tidak ada seorang pun tahu bahwa Andaryoko Wisnuprabu adalah Supriyadi, pahlawan Pembela Tanah Air (PETA) yang hilang misterius sejak 63 tahun lalu, kecuali Soepardjo Roestam. Selama ini Soepardjo pun tidak pernah membocorkan identitas Andaryoko.

“Yang mengenali saya sebagai Supriyadi hanyalah Pak Soepardjo Roestam,” kata Andaryoko saat ditemui detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya di kawasan Jalan Mahesa Raya, Pedurungan, Semarang, Selasa (12/8/2008).

Soepardjo Roestam adalah mantan gubernur Jawa Tengah. Mantan ajudan Panglima Besar Soedirman itu juga pernah dipercaya oleh Presiden Soeharto sebagai Mendagri dan Menko Kesra.

Mengapa Soepardjo Roestam mengetahui Andaryoko sebagai Supriyadi? Karena Soepardjo Roestam juga mantan pejuang PETA. Soepardjo Roestam mengenal betul sosok Supriyadi.

Lantas dari mana Soepardjo tahu Andaryoko adalah Supriyadi? Andaryoko tidak pernah memberitahu identitas aslinya kepada Soepardjo. “Beliau tahu karena para anggota PETA sering melakukan lelaku. Beliau tahu saya melalui insting. Ketika beliau bertanya apakah bapak adalah Pak Supriyadi, baru saya membenarkan,” kata Andaryoko.

Di banyak tulisan sejarah, Soepardjo Roestam memulai karirnya dari bawah. Perjalanan kemiliterannya dimulai pada 1944, ketika ia bergabung ke dalam PETA. Waktu itu ia terpilih sebagai shudancho — ajudan komandan batalyon di Kroya, mengiringi Panglima Besar Soedirman. Saat itu Sudirman masih Daidancho PETA Kroya. Saat Soedirman jadi Panglima Besar, Soepardjo ditarik jadi ajudan dengan pangkat kapten. Sementara Supriyadi menjadi komandan batalyon di Blitar.

Andaryoko Wisnuprabu mengklaim sebagai Supriyadi, tokoh PETA yang hilang misterius sejak 63 tahun lalu. Bila klaim itu benar, mengapa Andaryoko baru membuka identitas dirinya baru-baru sekarang ini? Ini terkait pesan Bung Karno.

Saat ditemui detikcom dan The Jakarta Post, Selasa (12/8/2008) di rumahnya di Jalan Mahesa Raya, Pedurungan, Semarang, Andaryoko menjelaskan klaim dirinya itu. Dia memperlihatkan foto-foto dirinya semasa di PETA dan foto masa mudanya. Dia juga sangat lancar menceritakan sejarah yang terjadi puluhan tahun lalu.

Ada dua alasan mengapa dirinya baru buka-bukaan sekarang ini. Bahkan, dia juga mengeluarkan buku dengan judul ‘Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno’. Buku yang penulisannya dibantu oleh sejarawan dari Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Baskara T Wardaya, dan telah diluncurkan pada Sabtu (9/8/2008) di Semarang.

Pertama, adanya dorongan dari banyak pihak agar dirinya segera membuka diri. Kedua, saat ini merupakan saat yang pas bagi Andaryoko untuk membuka diri ke publik.

“Kenapa? Karena dulu Bung Karno pernah berpesan kepada saya begini, “Sup, kamu kan mengalami sendiri sejarah bangsa ini. Tolong kalau kamu diberi umur panjang, kamu ceritakan semua yang kamu ketahui”. Dan sekarang inilah saatnya saya melaksanakan pesan Bung Karno, karena saya sudah berusia lanjut,” kata Andaryoko yang mengenakan baju warna cokelat.

Andaryoko kini berusia 89 tahun. Dia hidup bersama anak dan cucunya di Semarang. Meski Andaryoko sudah sepuh, namun ingatannya masih tajam. Dia bahkan cas cis cus saat ditanya mengenai kisah-kisah sejarah yang terjadi puluhan tahun silam.

Sebagai penulis buku sejarah, Baskara T Wardaya mengaku sudah beberapa kali bertemu orang yang mengaku sebagai Supriayadi saat melakukan riset. Namun sosok Andaryoko Wisnuprabu, berbeda dengan para ‘Supriyadi’ lainnya.

“Biasanya tokoh yang pernah muncul dulu dengan nuansa supranatural dan penuh kesaktian, namun Andaryoko Wisnuprabu tidak,” kata Baskara, sejarawan sekaligus Kepala Pusat Sejarah dan Etika Politik (Pusdep) Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, kepada detikcom, Selasa (12/8/2008).

Tidak hanya itu, Andaryoko juga menarasikan sejarah Indonesua pasca-45 yang berbeda. Andaryoko jauh lebih mementingkan sejarah daripada hal lainnya.

“Dia tidak ingin ada semacam kultus individu. Itu yang dia hindari. Dia tak ingin dipuji, tapi ingin ditulis. Andaryoko bilang yang penting bukan dirinya,” kata Baskara menuturkan ucapan Andaryoko saat bertemu di Semarang.

Baskara menambahkan, banyak sejarah tentang peristiwa pemberontakan PETA di Blitar yang bisa dikaji ulang. Misalny, saat para pemberontak ditangkap tentara militer Jepang mengpa Jepang tidak langsung mengumumkannya. Termasuk juga mengapa pemberontakan itu terjadi di Blitar.

“Mengapa peristiwa itu muncul di Blitar bukan di Batavia (Jakarta) atau daerah lain. Ini yang jadi pertanyaan,” kata doktor lulusan Universitas Marquette, Milwaukee, Wisconsin, AS itu.

Demikian pula soal penunjukan Supriyadi menjadi menteri keamanan rakyat atau panglima TKR oleh Bung Karno selaku Presiden RI. Hal itu tentu dilakukan Bung Karno dengan alasan kuat mengingat jabatan tersebut sangat strategis.

“Jangan-jangan dia (Supriyadi) memang masih ada karena masih disebut oleh Bung Karno,” ungkap Baskara.

Selain itu, sambung Baskara, Bung Karno semasa menjadi presiden juga tidak pernah menangkat Supriyadi menjadi pahlawan nasional. Sebab seseorang diangkat menjadi pahlawan nasional setelah yang bersangkutan meninggal dunia.

“Saya kira semua masih bisa dilacak sejarahnya. Ini akan memperkaya khasanah sejarah Indonesia terutama pasca-45. Kita perlu mendengarkan yang lain,” pungkas dia.

Andaryoko Wisnuprabu mengaku sebagai tokoh PETA yang hilang misterius 63 tahun lalu, Supriyadi. Dia mengaku pergi dan menetap di Semarang setelah heboh kasus pemberontakan di Blitar. Di Semarang, dia menjadi staf wakil residen Semarang, dan kemudian memimpin perusahaan.

Andaryoko mulai tinggal Semarang pada Juli 1945. Saat itu, Andaryoko dijadikan sebagai staf Wakil Residen Wongsonegoro. Dia bekerja di staf pemerintahan ini cukup lama.

Hingga kemudian pada tahun 1959, dia dipercaya untuk memimpin perusahaan perkebunan milik negara, Pusat Perkebunan Negara Baru Jawa Tengah. Setelah itu Andaryoko dipercaya mengelola Perusahaan Negara Jayabakti yang bergerak dalam garmen dan perdagangan umum. Saat itu, perusahaan tersebut dipimpin oleh Suhardiman.

Pada tahun 1972, Andaryoko berhenti bekerja dan pensiun. Dia lantas mendirikan dan mengurus beberapa yayasan.

Selama Andaryoko bekerja di staf pemerintahan dan kemudian memimpin perusahaan, tidak ada seorang pun tahu bahwa dia adalah Supriyadi. Sebab, menurut Andaryoko, dirinya tidak pernah membuka identitas sebenarnya kepada publik. Dia baru membuka diri ke publik akhir-akhir ini.

Andaryoko juga bercerita bahwa awalnya nama yang dia pakai di Semarang tanpa ada embel-embel Wisnuprabu. “Nama Wisnuprabu saya pakai setelah saya melakukan tirakat. Orang-orang PETA memang dari dulu suka melakukan lelaku-lelaku,” ujar lelaki sepuh berusia 89 tahun itu.

Andaryoko Wisnuprabu, pria yang mengaku sebagai tokoh pemberontakan Pembela Tanah Air (PETA) Supriyadi, juga bercerita soal naskah proklamasi. Menurut Andaryoko, naskah asli proklamasi sempat dibuang ke tempat sampah.

Andaryoko menuturkan, naskah proklamasi tersebut ditulis oleh Bung Karno sekitar pukul 04.00 WIB, 17 Agustus 1945. Setelah selesai, Bung Karno kemudian memberikan naskah itu kepada para pemuda yang berkumpul di rumahnya, Jalan Pegangsaan Timur No 56. Naskah itu selanjutnya diketik oleh Sayuti Melik.

“Usai mengetik, Melik meremas-remas naskah (teks proklamasi yang ditulis Bung Karno) itu. Dia pikir kertas itu tidak diperlukan lagi, karena sudah ada naskah ketikan. Naskah itu dibuang ke tempat sampah,” kata Andaryoko kepada detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya, Selasa (12/8/2008).

Andaryoko menjelaskan, usai mandi, Bung Karno melihat ulang naskah proklamasi yang diketik Sayuti Melik. Lalu dia bertanya soal naskah aslinya.

“Beruntung, naskah asli itu tidak dirobek. Hanya diremas sampai kumal. Setelah itu, naskah itu diseterika dan menjadi bagus lagi. Bung Karno mengantonginya dan sekarang disimpan di Arsip Nasional,” ungkapnya panjang lebar. (Dalam versi yang lain, naskah dipungut dari tempat sampah oleh BM Diah dan baru diserahkan kepada Presiden Soeharto pada tahun 1992)
Sebelum bercerita soal naskah proklamasi, Andaryoko mengisahkan peristiwa ‘penculikan’ tokoh tua oleh pemuda. Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh lain dibawa ke Rengasdengklok.

Menurutnya, peristiwa itu bukan penculikan. “Saya tidak ngomong seperti itu. Peristiwa itu hanya negosiasi antara tokoh tua dan muda,” demikian Andaryoko.

Menjelang kemerdekaan 17 Agustus 1945, situasi serba darurat. Kain putih yang digunakan sebagai bendera berasal dari gordyn, sedangkan tiang bendera merupakan bambu bekas jemuran pakaian.

Demikian penuturan Andaryoko Wisnuprabu yang mengaku sebagai pejuang PETA, Supriyadi, ketika ditemui detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya, Selasa (12/8/2008).

“Saat itu kan pagi-pagi sekali. Tidak mungkin ada penjual kain atau bambu. Akhirnya, kain putih diambilkan dari gordyn dan bambu jemuran sebagai tiang benderanya,” katanya.

Andaryoko tidak ingat betul darimana kain merahnya. Namun ia yakin itu juga kain bekas. Bendera itu dijahit oleh Fatmawati.

Rencananya proklamasi akan dibacakan di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monas, Jakarta). Namun ternyata lapangan tersebut diblokir tentara Jepang.

“Kurir yang dikirim Bung Karno menjelaskan, lapangan tersebut dipenuhi tentara Jepang. Ini artinya, info (rencana proklamasi) sudah bocor,” jelasnya.

Akhirnya, pembacaan proklamasi dilakukan di halaman rumah Bung Karno, Jalan Pegangsaan Timur No 56. Microphone kecil yang dipakai dalam upacara itu adalah milik Bung Karno yang diambilkan dari radio.

Andaryoko Wisnu Prabu (sebelumya ditulis Andaryoko Wisnuprabu-Red) mengaku sebagai Supriyadi. Dia punya alasan mengapa dia mengubah nama menjadi Andaryoko. Bahkan, pejuang PETA itu tidak hanya sekali mengubah nama. Mulai dari Andaryono, Andaryoko, hingga Andaryoko Wisnu Prabu.

Saat tiba di Semarang Juli 1945, oleh Wakil Residen Semarang Wongsonegoro, Supriyadi diminta mengganti nama agar tidak diketahui tentara Jepang. Demi keselamatan bersama, ia setuju.

“Awalnya, saya berpikir nama Andaryono. Tapi nama Yono sudah terlalu banyak. Lalu saya ganti dengan Andaryoko,” kata Andaryoko ketika ditemui detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya, Selasa (12/8/2008).

Nama belakang, Wisnu Prabu, diperoleh saat lelaku atau tirakat. Dia mendapat bisikan agar menambah namanya menjadi Andaryoko Wisnu Prabu yang akhirnya dipakai hingga kini.

Nama baru tidak menghilangkan secara total sosok Supriyadi. Pejuang PETA itu pernah tertangkap basah oleh orang lain.

Dalam ‘Buku Catatan Kisah Perjuangan Perjuangan Tentara Pelajar Solo: Merdeka atau Mati!’ terbitan Al-Qalam Jakarta 1983 disebutkan, pada 30 Desember 1948, dua tentara pelajar dinasihati seseorang. Mereka menduga orang itu adalah Supriyadi.

“Ya. Saya bertemu mereka. Tapi saya lupa nama mereka,” terang Andaryoko membenarkan kisah di dalam buku itu.

Pun halnya saat ditanya soal kejelasan Supriyadi berada di Bayah, Banten sebagaimana disebutkan dalam Buku Citra Perjuangan dan Perjuangan Perintis Kemerdekaan yang terbit pada tahun 1987.

“Saya memang pernah ke sana (Bayah, Banten). Saya bertemu dengan Kepala Desa bernama Haji Mukandar. Oleh dia saya dikabarkan telah mati,” ungkap dia.

Identitas aslinya tetap terjaga hingga usianya menginjak 89 tahun. Akhir-akhir ini saja, saat situasi dirasa memadai, ia membuka identitas aslinya, Supriyadi.

Empat anak Andaryoko juga tidak tahu identitas aslinya. Bahkan istrinya, Fatma, tidak tahu mengenai hal ini hingga ajal menjemputnya 2003 silam.

“Saya tahu ya¬† saat bapak diwawancarai penulis buku dan Anda ini,” kata putra kedua Andaryoko, Andarwanto yang tidak terlalu banyak bicara saat menemani wawancara.Pemberontakan PETA Blitar pecah pada 14 Februari 1945. Sejatinya, pemberontakan dilakukan lebih awal, yakni 5 Februari 1945 saat dilakukan latihan bersama (Daidan) batalyon PETA Jawa Timur di Tuban. Namun, rencana ini gagal, karena Jepang mendadak membatalkan jalannya latihan. Perwira PETA yang terlanjur datang ke Tuban dipulangkan masing-masing ke kotanya.

Rencana pemberontakan PETA sendiri sesungguhnya datang dari akumulasi kekecewaan para kadet PETA terhadap Jepang. Di lapangan, mereka kerap menjumpai tindak sewenang-wenang tentara Jepang kepada pribumi, sementara dalam latihan ketentaraan, Jepang selain keras juga melakukan diskriminasi, seperti keharusan menghormat tentara Jepang meski pangkatnya lebih rendah.

Adalah Supriyadi yang menjadi motor rencana pemberontakan. Sebetulnya ia hanya seorang Shudanco (komandan peleton). Atasannya masih ada Cudanco (komandan kompi) Ciptoharjono dan Daidanco (komandan batalyon) Soerahmad. Namun, tak bisa dipungkiri, inisiatif dan otak pemberontakan ada di tangan Supriyadi. Ia menggandeng beberapa rekan Shudanco yang sepaham.

Syahdan pada 9 Februari 1945, Supriyadi menemui guru spiritualnya, Mbah Kasan Bendo. Ia mengutarakan maksud untuk melawan Jepang. Konon, saat itu Kasan Bendo memintanya untuk bersabar dan menunda gerakan hingga 4 bulan. “Tapi kalau ananda mau juga melawan tentara Jepang sekarang, saya hanya dapat memberikan restu kepadamu, karena perjuanganmu itu adalah mulia.”

Pesan itu disampaikan Supriyadi kepada rekan-rekannya. Setelah sempat menemui pimpinan PUTERA, Soekarno dan gagal mendapat restu, Supriyadi mengadakan rapat terakhirnya 13 Februari 1945 di kamar Shudanco Halir Mangundjidjaja. Hadir Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono. Hasilnya, pemberontakan akan dilakukan besok. Mereka masing-masing tahu risikonya bila gagal, paling ringan disiksa dan paling berat hukuman mati.

Rencana ini terkesan tergesa-gesa karena Supriyadi dan rekan-rekannya khawatir tindak tanduk mereka telah dimonitor Jepang. Shudanco Halir menceritakan di Blitar baru saja datang satu gerbong anggota Kempetai yang baru datang dari Semarang. Mereka menginap di Hotel Sakura. Supriyadi cs menduga, kedatangan Kempetai untuk menangkap dirinya dan rekan-rekannya.

14 Februari 1945, pukul 03.00, senjata dan peluru dibagi-bagikan ke anggota PETA. Jumlah yang ikut serta 360 orang. Setengah jam kemudian, Bundanco Soedarmo menembakkan mortir ke Hotel Sakura. Hotel direbut dan tentara PETA menurunkan slogan “Indonesia Akan Merdeka” (janji proganda Jepang) dan menggantinya dengan spanduk “Indonesia Sudah Merdeka.” Merah putih juga dikibarkan.

Pasukan PETA melucuti senjata para polisi dan membebaskan tawanan dari penjara. Beberapa orang Jepang yang ditemui dibunuh. Mereka lalu bergerak menyebar ke tempat yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun entah kenapa, rencana penyebaran malah gagal. Seluruh pasukan PETA seusai serangan justru berkumpul di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri.

Sejak awal, Jepang berhati-hati dalam menangani pemberontakan PETA. Mereka tidak terlalu ofensif dan cenderung menggunakan jalan persuasif untuk menjinakkan Supriyadi dan rekan-rekannya. Hal ini dilakukan demi menghindari tersulutnya kemarahan Daidan (Batalyon) PETA yang lain yang bisa saja malahan membuat pemberontakan meluas dan merembet ke mana-kemana.

Setelah kota Blitar berhasil diduduki kembali, langkah diplomasi pun dibuat. Kolonel Katagiri yang ditunjuk untuk memimpin operasi penumpasan mendatangi pasukan Supriyadi yang bertahan di Hutan Ngancar, perbatasan Kediri. 19 Februari 1945, di Sumberlumbu, Katagiri bertemu dengan Muradi, salah satu pemimpin pemberontak. Pasukan PETA menawarkan penyerahan diri bersyarat. Adapun syaratnya adalah:

1. Mempercepat kemerdekaan Indonesia

2. Para tentara PETA yang terlibat pemberontakan takkan dilucuti senjatanya.

3. Aksi tentara PETA yang dilakukan pada 14 Februari 1945 di Kota Blitar
takkan dimintai pertanggungjawaban.

Katagiri menyetujui syarat tersebut. Sebagai tanda sepakat, ia menyerahkan pedang perwiranya kepada Muradi untuk disimpan. Muradi beserta seluruh pasukannya kembali ke Blitar.

Nah, pada saat kembali dari Ngancar inilah, Supriyadi terakhir kali terlihat. Persisnya ia hilang di dukuh Panceran, Ngancar. Ada dugaan dia diculik secara diam-diam dan dibunuh Jepang di Gunung Kelud, namun berkembang juga isu bahwa Supriyadi sengaja melarikan diri. Mungkin ia memang sudah tak yakin Jepang akan memenuhi syarat yang diajukan PETA.

Jika itu yang ia rasakan, Supriyadi benar. Kesepakatan Sumberlumbu ternyata tak diakui oleh pimpinan tentara Jepang di Jakarta. Mereka meminta Kempetai tetap memproses para pelaku diproses. Dari hasil pilah memilah dan negosiasi, diberangkatkanlah 78 tentara PETA ke Jakarta untuk menghadapi pengadilan militer Jepang. Anggota lain yang terlibat hanya dikarantina di mess.
Hasil dari sidang militer, sebanyak 6 orang dijatuhi hukuman mati, 6 orang diganjar hukuman seumur hidup dan sisanya dihukum antara beberapa bulan sampai beberapa tahun. Tak lama kemudian, Shudanco Moeradi, Chudanco Ismangil, Shudanco Halir Mangkoedjidjaja, Bundanco Soenanto dan Bundanco Soeparjono menjalani eksekusi mati dengan dipenggal kepalanya di Eereveld, Ancol.

Bagaimana dengan Supriyadi? Sejak ia menghilang, ia tak pernah menunjukkan batang hidungnya kembali. Supriyadi sendiri pernah berpesan kepada ibunya beberapa hari sebelum pecahnya pemberontakan, apabila ia tidak kembali ke rumah dalam waktu 5 tahun, itu tandanya dirinya sudah meninggal dunia.

Apa benar Supriyadi telah gugur? Yang jelas, fakta bahwa jasadnya tak pernah diketemukan berbanding dengan penunjukannya sebagai panglima tentara Indonesia yang pertama menjadi bahan menarik sebagai komoditi misteri hingga kini. Komoditi yang juga sama dengan kasus raibnya Tan Malaka sebelum dipecahkan oleh sejarawan Belanda, Dr Harry Poeze.

Andaryoko Wisnu Prabu (89) yang mengaku sebagai Supriyadi membenarkan bahwa tentara Pembela Tanah Air (PETA) melakukan pemberontakan terhadap Jepang di Blitar. Karena kalah oleh tentara Jepang, Andaryoko dan pasukannya sembunyi di hutan selama 3 bulan.

Menurut Andaryoko, ada sekitar 200 pejuang PETA yang menyerang markas Jepang pada pukul 02.00 WIB, 14 Februari 1945. PETA melakukan pemberontakan karena tidak rela penduduk Indonesia diminta membungkuk-bungkuk pada Jepang dan dipukuli.

“Banyak yang mati dalam perang dadakan itu,” kata Andaryoko kepada detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya di Jalan Mahesa Raya, Pedurungan, Semarang Selasa (12/8/2008). Pejuang PETA kalah karena Jepang meminta bala bantuan dari Kediri, Malang, dan sekitarnya.

Akhirnya, pejuang PETA pun lari menyelamatkan diri dan mengungsi ke hutan mulai dari Blitar Selatan, Hutan Purwo, dan Ketonggo, Ngawi. Mereka bersembunyi hingga bulai Mei 1945.

Pada Mei 1945 itu, Andaryoko keluar hutan dan menemui Bung Karno di Jakarta. Pada saat bersamaan, Bung Karno ikut sidang BPUPKI.

“Saya diterima pengawal presiden. Bung Karno pada awalnya tidak percaya. Tapi setelah saya katakan,” Bung, Anda itu pemimpin. Kalau tidak memercayai orang sendiri, saya harus percaya kepada siapa”, paparnya.

Akhirnya, Andaryoko diajak ke ruang belakang dan berbincang macam-macam. Saat itulah, dia berhubungan langsung dengan Bung Karno. Presiden pertama itu menyebut Andaryoko dengan sebutan Sup (Supriyadi).

Pada saat itulah Bung Karno berpesan kepada Andaryoko alias Supriyadi. “Sup, kamu kan mengalami sendiri sejarah bangsa ini. Tolong kalau kamu diberi umur panjang, kamu ceritakan semua yang kamu ketahui.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: